Forward'an MsSg dari SeoRang Teman Baik...
menGingatkanQu pada iBuQu...
sUbbhanaLLaH....sunGguh muLia pEngorbanan seOrang iBu...
iKa SayanG.........iBu!!!!!!
Bayu GAWTAMA
LELAKI SEBELAS AMANAH
Speechless ���..
BARU selesai menyapu, udah disuruh kewarung. Sebentar ya, Bu? Saya masih lelah �" kata-kata itu selalu keluar setiap kali ibu meminta tolong membelikan sesuatu diwarung yang jaraknya tak lebih dari 20 meter.
Pulang dari warung, ibu minta tolong untuk mengantarkan pesanan bu Sapto, tetangga sebelah rumah, "Nanti dulu dong, Bu, Capek nih �" kata itu yang menjadi alas an untuk menolak permintaan ibu.
Setiap sore, permintaan ibu dterdengar dari luar kamar agar saya segera mengepel lantai. Biasa, tugas rutin. Lagi-lagi alasan masih lelah keluar dari mulut ini dan membiarkan ibu terus-menerus memanggil nama saya. Biasanya kalau sudah bosan, ibu yang mengerjakannya sendiri.
Kemarin, sepulang sekolah, secarik kertas menempel dipintu kamar. Tertulis pesan, "Jangan tidur siang, ya? Langsung kepasar, Bantu ibu ambil belanjaan. " Seperti biasa, kertas itu tetap menempel samapi sore hari ibu datang terengah-engah berpeluh keringat berjingjing belanjaan. "Capek banget nih bu. Maaf yah? Hanya itu alasan yang saya punya.
Tadi pagi, sebelum berangkat sekolah, saya alpa mengerjakan tugas pagi, menyapu lantai. Sambil menyantap sarapan, saya minta maaf ke ibu, karena semalam saya terlalu larut belajar. "Masih capek nih, Bu" lagi-lagi alasan itu.
Sore ini, alasan lelah lagi yang saya pakai untuk menolak permintaan ibu menjaga adik. Padahal, ibu memintanya dengan penuh harap. Setelah ibu mengalah justru saya tak merasa lelah saat dating ajakan bermain bola dari teman teman.
Hmm, saya sering meneteskan air mata jika mengingat alasan-alasan yang selalu saya buat untuk menolak permintaan ibu. Sungguh, saya yakin meski tak meminta maaf pun, ibu selalu memaafkan anaknya ini.
Kini, saya teramat tahu, ibu tak pernah bilang lelah menuruti kemauan saya sejak kecil. Tak sekalipun terdengar keluh ibu menanggapi semua permintaan saya. Tak ada kata " Ibu Lelah, Nih," untuk pinta yang tak pernah henti dari anaknya ini.
Ibu tak pernah lelah menyediakan dadanya saat saya sedih, juga ketika saya bingung mencari tempat mencurahkan persoalan. Wanita yang teramat tangguh itu tak sedikit pun tersirat untuk berhenti berjalan, menempuh ribuan kilo untuk melayani semua keperluan saya.
Bahkan, saya pun tahu dulu ibu tak pernah mengeluh membawa perut buncitnya selama 9 bulan lebih hingga melahirkan saya antara hidup dan matinya. Lalu, saya juga tau, air susunya menjadi saksi bahwa ia memang tak pernah lelah mengalirkan cintanya kepada saya.
Ah, Ibu, maafkan anakmu ini yang terkelu tatkala mengingat semua.